Tim Penggerak PKK Desa Karangmangu yang difasilitasi oleh Pemerintah Desa Karangmangu menyelenggarakan kegiatan sosialisasi bertema “Parenting Love Language dalam Keluarga” pada Minggu, 7 Juni 2026. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus TP PKK Desa Karangmangu, perwakilan kelompok PKK RT/RW, serta menghadirkan narasumber dari TP PKK Kecamatan Baturraden.
Dalam sambutannya, Ketua TP PKK Desa Karangmangu, Lela Sufiana, A.Md.Keb., menyampaikan bahwa keluarga merupakan sekolah pertama dan utama bagi setiap anak. Di lingkungan keluargalah nilai-nilai kehidupan, kasih sayang, serta pembentukan karakter ditanamkan sejak usia dini.
Namun demikian, dalam kehidupan sehari-hari sering kali orang tua merasa telah menunjukkan kasih sayang kepada anak maupun pasangan, sementara mereka belum tentu merasakannya dengan cara yang sama. Oleh karena itu, pemahaman mengenai bahasa kasih (love language) menjadi penting untuk membangun komunikasi yang lebih efektif di dalam keluarga.
“Melalui tema Parenting Love Language dalam Keluarga, kita diajak memahami bahwa setiap anggota keluarga memiliki cara yang berbeda dalam menerima dan mengekspresikan kasih sayang. Dengan memahami bahasa kasih masing-masing, hubungan dalam keluarga akan semakin harmonis, komunikasi menjadi lebih baik, dan konflik dapat diminimalkan,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, narasumber Ina Yukawati, S.Pd., memaparkan lima bahasa kasih yang dapat diterapkan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Bahasa kasih pertama adalah Words of Affirmation atau kata-kata penegasan. Anak yang memiliki bahasa kasih ini akan merasa dicintai melalui ungkapan positif, pujian, dan apresiasi yang diberikan orang tua. Sebaliknya, mereka cenderung merasa sedih atau terluka ketika menerima kata-kata kasar. Kalimat sederhana seperti “Ibu bangga padamu” atau “Ayah senang kamu sudah merapikan mainan sendiri” dapat memberikan dampak besar bagi perkembangan kepercayaan diri anak.
Bahasa kasih kedua adalah Acts of Service atau tindakan nyata. Anak akan merasa diperhatikan dan dihargai ketika orang tua menunjukkan kasih sayang melalui bantuan atau tindakan sederhana yang dilakukan untuk mereka. Bentuk perhatian seperti membantu menyiapkan kebutuhan sekolah atau mendampingi saat belajar dapat menjadi ungkapan kasih yang bermakna.
Selanjutnya adalah Physical Touch atau sentuhan fisik. Sentuhan lembut seperti memeluk, menggandeng tangan, mengusap kepala, atau mencium anak dapat memberikan rasa aman dan nyaman. Selain itu, sentuhan juga dapat meningkatkan produksi hormon oksitosin yang dikenal sebagai hormon kasih sayang, sehingga mempererat ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Bahasa kasih keempat adalah Quality Time atau waktu berkualitas. Bagi anak, kehadiran penuh orang tua jauh lebih berarti dibandingkan lamanya waktu yang dihabiskan bersama. Meluangkan waktu 15 hingga 20 menit untuk bermain, bercerita, atau mengobrol tanpa gangguan telepon genggam dapat membuat anak merasa dihargai dan dicintai. Melibatkan anak dalam aktivitas sederhana, seperti menyiapkan makanan bersama, juga menjadi cara efektif membangun kedekatan.
Adapun bahasa kasih kelima adalah Gifts atau hadiah. Bagi sebagian anak, hadiah dapat menjadi simbol perhatian dan kasih sayang. Hadiah yang diberikan tidak harus mahal, bahkan hadiah sederhana atau hasil karya orang tua sendiri sering kali memiliki makna yang lebih mendalam. Melalui pemberian hadiah, anak merasa dikenang, dihargai, dan dicintai oleh orang tuanya.
Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan antusias dan interaktif. Peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai berbagai bentuk bahasa kasih dalam keluarga, tetapi juga diajak untuk merefleksikan pola komunikasi yang selama ini diterapkan di rumah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta dapat menerapkan konsep parenting love language dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta lingkungan keluarga yang penuh cinta, saling menghargai, serta mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Dengan keluarga yang harmonis dan komunikatif, diharapkan generasi yang tumbuh pun menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, dan berkarakter positif.