Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pemerintah Desa Karangmangu menyelenggarakan kegiatan edukasi bagi kader kesehatan mengenai Gerakan Banyumas Pilah Sampah dari Sumber. Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Semarang dengan tema “Pengolahan Sampah Plastik Rumah Tangga Menjadi Ecobrick”.
Kegiatan yang berlangsung pada 4 Juni 2026 tersebut diikuti oleh 30 kader kesehatan Desa Karangmangu. Selain itu, kegiatan juga dihadiri oleh unsur pemerintah desa, petugas Puskesmas Baturraden II, serta melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi Sanitasi Diploma III dan Sanitasi Lingkungan Sarjana Terapan Poltekkes Kemenkes Semarang.
Kepala Desa Karangmangu, Cucud Waluyo, SH, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya. Upaya tersebut sekaligus mendukung target Banyumas Zero Waste 2028 serta sejalan dengan Surat Edaran Bupati Banyumas Nomor 600.4.1/3/2026 tentang Gerakan Banyumas Pilah Sampah dari Sumber dan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Selain itu Kepala Desa juga mengapresiasi kegiatan yang digelar Poltekkes Kemenkes Semarang.
Ketua tim pelaksana kegiatan, Nuryanto, SKM, MPH, menjelaskan bahwa program ini bertujuan mendorong masyarakat agar tidak hanya membuang sampah, tetapi juga mampu mengelolanya menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai guna melalui metode ecobrick. Menurutnya, ecobrick merupakan salah satu solusi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat untuk mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus meningkatkan kesadaran dalam pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
Selama kegiatan, peserta mendapatkan materi mengenai pemilahan sampah rumah tangga serta penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang disampaikan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan. Selain itu, Dr. Umroh, ST, M.Si dari Universitas Negeri Bangka Belitung memberikan edukasi mengenai dampak mikroplastik terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Sampah plastik yang terurai menjadi mikroplastik dapat mencemari air, tanah, dan udara, serta berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, minuman, udara, maupun kontak dengan kulit.
Pada sesi praktik, peserta diajak membuat ecobrick dengan cara memadatkan sampah plastik yang bersih dan kering ke dalam botol plastik hingga menghasilkan bahan yang kuat dan dapat dimanfaatkan kembali. Ecobrick yang dihasilkan dapat diolah menjadi berbagai produk fungsional, seperti pot tanaman, meja, hingga kursi sederhana.

Sementara itu, Alif Nur Widiati, S.Tr.Kes dari Puskesmas Baturraden II menyampaikan bahwa pengelolaan sampah di Desa Karangmangu selama ini telah berjalan cukup baik. Namun, masih diperlukan peningkatan, terutama dalam hal pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Menurutnya, pemilahan sampah dari sumber merupakan langkah penting, tidak hanya untuk mempermudah proses pengelolaan, tetapi juga untuk menjaga keselamatan petugas pengolah sampah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para kader kesehatan dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan mampu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya serta mendorong pengolahan sampah plastik menjadi ecobrick secara berkelanjutan demi mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.